Bersahabat Dengan ALLAH

Allah Ta’ala menciptakan berbagai kaum manusia dalam keadaan yang berbeda-beda ada yang tampak kaya, ada yang tampak miskin – sebagai bagian dari ujian hidup bagi setiap orang yang bersangkutan.

Namun bukan kelebihan atau kekurangan dalam hal materi atau kekayaanlah yang menentukan nilai manusia, melainkan ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal – mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Apa sih taqwa itu? Taqwa adalah rasa takut kepada Allah yang menjadikan seseorang berusaha melindungi dirinya dari murka Allah dengan cara melakukan hal-hal yang menyenangkan dan diridhai Allah Ta’ala. Kita takut kepada Allah, kita takut Allah akan murka kepada kita, kita sadar bahwa Allah mengawasi seluruh diri kita, luar dan dalam, lahir dan batin, selama 24 jam dalam sehari demi membuat Allah suka kepada kita. Karena itulah kita dirikan shalat. Bukankah Allah sudah perintahkan kepada kita untuk menegakkan shalat dalam rangka mengingat Dia? Tentu saja, pada saat yang bersamaan, selalu ada pihak yang selalu berusaha membuat kita melupakan Allah Ta’ala, membuat kita melupakan bahwa seharusnyalah kita takut kepadaNya,

Dan membuat kita lupa shalat atau pun melakukan apa saja yang akan menarik simpati dan ridha Allah. Nah pihak ini, siapa lagi kalau bukan setan?

Kita semua memang selalu ada berada dalam pertarungan – antara ingat kepada Allah dan lupa kepada Allah. Dengan demikian, untuk dapat mencapai apa yang disebut taqwa, kita harus terus bertarung dengan setan yang membisik-bisikkan kepada kita agar lupa. Namun kalau kita berhasil mencapai posisi ingat dan takut kepada Allah itu, alias Taqwa, maka hadiah yang akan kita capai sungguh luar biasa : Dijadikan teman, aulia, oleh Allah.

Mana ada sahabat sebaik Allah Ta’ala?

 

 

Sebagaimana Allah firmankan dalam Al-qur’an surah Yunus ayat 62-64,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat – kalimat (janji-janji) Allah. Yang Demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

 

GIVING IS A LIFESTYLE

Dalam salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda sebagaimana dilaporkan oleh Abu Hurairah…

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Barang siapa yang mencoba menyakiti sahabatku, maka Aku canangkan perang atas dirinya!’ ”

 

Inilah status teman, sahabat Allah, alias aulia : seseorang yang sedemikian dilindungi oleh Allah Ta’ala sehingga Allah Ta’ala bahkan menyatakan perang atas diri musuh-musuhnya! Perlindungan apa lagi, dari mana lagi, yang kita perlukan kalau Allah sendiri sudah menjanjikan keistimewaan seperti itu?

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, “Hambaku tidaklah mendekat kepadaku dengan (melakukan) sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang telah Aku wajibkan atas diri nya. ”

 

Kalau kita ingin mendekat kepada Allah, menjadi sahabat Allah yang kemudian mendapatkan perlindungan istimewa dari Nya.

Maka rute nya adalah hanya dengan rute yang Allah tetapkan, yakni dengan melakukan semua hal-hal yang telah Dia wajibkan atas diri kita.

 

Tidak ada jalan pintas menuju taqwa dan persahabatan dengan Allah selain dengan melakukan hal-hal yang diwajibkan atas diri kita, dan mencoba menambahnya dengan hal-hal yang sifatnya sunnah.

Shalat adalah sesuatu yang wajib kita lakukan lima kali sehari, namun kita masih ingin menambah dan menyempurnakannya dengan shalat-shalat sunnah. Misalnya, istikharah, tahajud dan witir. Semua proses melaksanakan ini mengubah sesuatu yang bersifat ritual menjadi sesuatu yang lebih bernilai tinggi. Shalat bukan sekedar rutinitas tapi sudah menjadi gaya hidup.

Hal ini berlaku pula pada ibadah wajib lainnya seperti berpuasa. Rute menuju taqwa dan persahabatan dengan Allah adalah dengan melaksanakan semua yang wajib lalu menambahkannya dengan yang sunnah dan mengubah yang sekedar rutin menjadi sebuah gaya hidup. Karena kita sudah terbiasa berzakat, lalu mencoba untuk selalu berinfaq dan bersedekah, maka memberi menjadi gaya hidup.

Giving is Lifestyle

Inilah cara hidup yang sesuai dengan taqwa. Untuk mereka yang beruntung bisa menciptakan gaya hidup seperti ini, kata Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan jawab do’a – do’a nya. Kalau orang seperti ini meminta perlindungan dari Allah, maka Allah berikan kepadanya perlindunganNya yang MahaSempurna.

Kalau kita menginginkan cinta Allah – dan jangan lupa, Allah mencintai semua sahabatNya – maka kita harus berusaha mencapai dan menggapai cinta itu dengan cara melaksanakan semua yang wajib dan menambahkannya dengan yang sunnah. Itu saja.

Seseorang yang bertaqwa akan merasakan ketenteraman dan sakinah yang luar biasa, sehingga yang luar biasa, sehingga tidak lagi dikendalikan oleh berbagai keinginan material semata. Kalau masalah menghadang, mereka tidak menjadi panik dan bingung, karena hati mereka sudah tenteram.

Bila berhasil kita capai ini, maka Insya-Allah, kita sudah sampai pada kebahagian sejati.

Allahu a’lam bish-shawwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: