Saat Pekerjaan Hilang (pengangguran)


Pernikahan mengikat dua pribadi yang membuat komitmen untuk hidup dan mengatasi masalah bersama. Jika salah satu pihak tersandung masalah, maka pihak lain harus mendukung. Termasuk saat orang tercinta harus kehilangan pekerjaan nya.

Ketika kondisi perusahaan pasangan tengah tak menentu atau seorang karyawan bermasalah dengan manajemen kantor, pemutusan hubungan kerja kadang tidak dapat dihindari lagi. Suasana rumah tangga pun sedikit banyak juga terimbas.

Bila kedua pihak dapat saling memahami, kemungkinan keluarga yang tengah dibina akan tetap harmonis. Sebaliknya, masalah justru tambah runyam jika kedua nya saling bersitegang mengenai kehilangan pekerjaan itu.
Seperti gambaran rumah tangga Maharani Sawitri, 33, dan Agus Effendy, 33. Suami istri yang sudah dikaruniai tiga anak ini tengah mengalami cobaan. Sebab, karena salah di kantor, akhir nya suami Maharani dikeluarkan dari pekerjaan.
Keadaan di atas akhirnya menimbulkan ketegangan di antara mereka berdua. Diperburuk lagi dengan keadaan ekonomi yang belum mapan sepenuhnya. “Saya bahkan kadang merasa ragu dengan kemampuan suami saya sendiri, ” keluh Maharani.
Agus memang bukan tipe lelaki agresif dalam pekerjaan nya sebagai Programmer. Tindak tanduk nya yang kalem tidak terlalu membantu dia mendapat kesempatan luas di kantor. Namun, saat ini Agus tengah mengawali usaha sendiri dengan membuka toko computer dan pernak-pernik ponsel. Selain itu, dia juga berusaha menjadi konsultan jika ada konsumen yang menginginkannya.
Komunikasi di antara mereka berdua memang masih baik. Namun, Maharani mulai merasa malas dan kurang percaya dengan suaminya. Ketidakpercayaan ini akan menimbulkan masalah besar jika tidak segera dicairkan. Tumpukan masalah hanya akan menjadi bom waktu. Maharani harus mulai berbicara dari hati ke hati tentang perasaannya.

Perlu besar hati untuk memahami

Masalah yang sudah bertumpuk dan tidak segera diselesaikan dalam sebuah rumah tangga akan memperburuk keharmonisan suami istri. Cheryl Stein, penasihat karir dari Montreal, Kanada, mengatakan pemutusan hubungan pekerjaan dapat memperbesar masalah-masalah rumah tangga lainnya yang muncul sebatas permukaan saja selama ini.
“Pasangan harus memahami ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Mereka juga tengah merasa kehilangan suatu bagian dalam hidup nya, ” kata Cheryl.
Hampir tidak mungkin berharap pasangan tersebut segera berpenampilan segar dan ceria kembali dalam waktu singkat. Pasti ada waktu bersedih karena mengetahui masa-masa menyenangkan dan gaya hidup yang sudah dijalani selama ini telah hilang.
Gaya hidup yang juga berarti status dan interaksi sosial seseorang sangat berpengaruh pada tingkat kesedihan seseorang ketika kehilangan pekerjaan. Jika biasanya mereka bisa berlibur keluar kota setiap minggu, mengadakan pesta ulang tahun anak di restoran, atau membeli barang-barang indah hilang dalam sekejap mata, tentu perasaan akan terpukul sekali. Otomatis, orang tersebut akan menarik diri sementara dari lingkaran pertemanan.
Stein menegaskan bahwa jaringan relasi sangat perlu dimiliki untuk menemukan pekerjaan baru dan kembali ke kondisi normal. Maka, tidak perlu menutup diri sepenuhnya. Sesekali keluar entah itu sekadar minum kopi atau berolahraga bersama teman dekat.
“ Interaksi social sangat penting untuk kesehatan dan pernikahan, ” kata Stein. Sediakan sedikit waktu bagi pasangan yang tengah bersedih, entah bermain games atau memasak menu kesukaan bersama.

Dari Koran Surya

Jum’at, 24 September 2010

Koran Surya, Jum’at 24 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: