Sistem Pembagian Waris Menurut Hukum Islam dan BW (Hukum Perdata)

 

  1. A.     Kewarisan Menurut Hukum Islam

Hukum Kewarisan menuuut hukum Islam sebagai salah satu bagian dari hukum kekeluargaan (Al ahwalus Syahsiyah) sangat penting dipelajari agar supaya dalam pelaksanaan pembagian harta warisan tidak terjadi kesalahan dan dapat dilaksanakan dengan seadil-adilnya, sebab dengan mempelajari hukum kewarisan Islam  maka bagi ummat Islam, akan dapat menunaikan hak-hak yang berkenaan dengan harta warisan setelah ditinggalkan oleh muwarris (pewaris) dan disampaikan kepada ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Dengan demikian seseorang dapat terhindar dari dosa yakni  tidak memakan harta orang yang bukan haknya, karena tidak ditunaikannya hukum Islam mengenai kewarisan. Hal ini lebih jauh ditegaskan oleh rasulullah Saw. Yang artinya:

“Belajarlah Al Qur’an dan ajarkanlah kepada manusia, dan belajarlah faraidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena sesungguhnya aku seorang yang akan mati, dan ilmu akan terangkat, dan bisa jadi akan ada dua orang berselisih, tetapi tak akan mereka bertemu seorang yang akan mengabarkannya (HR. Ahmad Turmudzi dan An Nasa’I”.

 

Berdasarkan hadits tersebut di atas, maka ilmu kewarisan menururt Islam adalah sangat penting, apalagi bagi para penegak hukum Islam adalah mutlak adanya, sehingga bisa memenuhi harapan  yang tersurat dalam hadits rasulullah di atas.

Dalam pasal 171 Kompilasi Hukum Islam, ada beberapa ketentuan mengenai kewarisan ini, yaitu:

  1. hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.
  2. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam,  meninggalkan ahli awaris dan harta peninggalan.
  3. Ahli waris adalah orang yang  pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum unutk menjadi ahli waris.
  4. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa harta benda yang menjadi hak miliknya maupun hak-haknya.
  5. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah,  pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.
  6. Wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang-orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.
  7.  Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki.
  8. Baitul Maal adalah balai harta keagamaan.

Sedang kewajiban ahli waris terhadap pewaris menurut ketentuan pasal 175 KHI adalah:

  1. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai.
  2. Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan termasuk kewajiban pewaris maupun menagih piutang.
  3. Menyelesaiakan wasiat pewaris.
  4. Membagi harta warisan diantara ahli waris yang berhak.

Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu,  maka yang bersangkutan  dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian harta warisan (pasal 188 KHI).

Bila pewaris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali, atau ahli warisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya kepada Baitul Maal untuk kepentingan agama Islam dan kesejahteraan umum (Pasal 191 KHI).

Bagi pewaris yang beristeri dari seorang,  maka masing-masing isteri berhak mendapat bagian dagi gono-gini dari rumah tangga dengan suaminya sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak milik para ahli warisnya (Pasal 190 KHI).

Duda mendapat separuh bagian, bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda mendapat seperempat bagian (Pasal 179 KHI).

Janda mendapat seperempat bagian, bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan apabila pewaris meninggalkan anak, maka janda mendapat seperempat bagian (Pasal 180 KHI).

Masalah waris malwaris dikalangan ummat Islam di Indonesia, secara jelas diatur dalam pasal 49 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989, bahwa Pengadilan Agama berwenang memeriksa, memutus  dan menyelesaikan perkara-perkara kewarisan baik ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang:

  1. Perkawinan.
  2. Kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam.
  3. Wakaf dan sedekah.

Menurut hukum Islam hak waris itu diberikan baik kepada keluarga wanita (anak-anak perempuan, cucu-cucu perempuan, ibu dan nenek pihak perempuan, saudara perempuan sebapak seibu, sebapak atau seibu saja). Para ahli waris berjumlah 25 orang, yang terdiri dari 15 orang dari pihak laki-laki dan 10 dari pihak perempuan. Ahli waris dari pihak laki-laki ialah:

a.       Anak laki-laki (al ibn).

b.      Cucu laki-laki, yaitu anak laki-laki dan seterusnya kebawah (ibnul ibn) .

c.       Bapak (al ab).

d.      Datuk, yaitu  bapak dari bapak (al jad).

e.       Saudara laki-laki seibu sebapak (al akh as syqiq).

f.       Saudara laki-laki sebapak (al akh liab).

g.      Saudara laki-laki seibu (al akh lium).

h.      Keponakan laki-laki seibu sebapak (ibnul akh as syaqiq).

i.        Keponakan laki-laki sebapak (ibnul akh liab).

j.        Paman seibu sebapak.

k.      Paman sebapak (al ammu liab).

l.        Sepupu laki-laki seibu sebapak (ibnul ammy as syaqiq).

m.    Sepupu laki-laki sebapak (ibnul ammy liab).

n.      Suami (az zauj).

o.      Laki-laki yang memerdekakan, maksudnya adalah orang yang memerdekakan seorang

hamba apabila sihamba tidak mempunyai ahli waris.

Sedangkan ahli waris dari pihak perempuan adalah:

a.       Anak perempuan (al bint).

b.      Cucu perempuan (bintul ibn).

c.       Ibu (al um).

d.      Nenek, yaitu ibunya ibu ( al jaddatun).

e.       Nenek dari pihak bapak (al jaddah minal ab).

f.       Saudara perempuan seibu sebapak (al ukhtus syaqiq).

g.      Saudara perempuan sebapak (al ukhtu liab).

h.      Saudara perempuan seibu (al ukhtu lium).

i.        Isteri (az zaujah).

j.        Perempuan yang memerdekakan (al mu’tiqah).

Sedangkan bagian masing-masing ahli waris adalah isteri mendapat ¼ bagian apabila sipewaris mati tidak meninggalkan anak atau cucu, dan mendapat bagian 1/8 apabila sipewaris mempunyai anak atau cucu, dan isteri tidak pernah terhijab dari ahli waris. Adapun yang menjadi dasar hukum bagian isteri adalah firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 12, yang artinya:

“Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak mempunyai anak, dan jika kamu mempunyai anak, maka isteri-isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat atau setelah dibayar hutang-hutangmu”.

 

Suami mendapat ½ bagian apabila pewaris tidak mempunyai anak dan mendapat ¼ bagian apabila pewaris mempunyai anak, berdasarkan firman Allah surat an Nisa’ ayat 12, yang artinya:

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua bagian dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika tidak mempunyai anak, dan jika ada anak maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat dan sesudah dibayar hutang-hutangnya”.

 

Sedangkan bagian anak perempuan adalah:

  1. Seorang anak perempauan mendapat ½ bagian, apabila pewaris mempunyai anak laki – laki.
  2. Dua anak perempauan atau lebih, mendapat 2/3 bagian, apabila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki.
  3. Seorang anak perempuan atau lebih, apabila bersama dengan anak laki-laki, maka pembagiannya dua berbanding satu (anak laki-laki mendapat dua bagian dan anak perempuan mendapat satu bagian), hal ini berdasarkan firman Allah dalam Surat An Nisa’ Ayat 11 yang artinya:

“Jika anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan”.

 

Bagian anak laki-laki adalah:

a.       Apabila hanya seorang anak laki-laki saja, maka dia mengambil semua warisan sebagai ashabah, jika tidak ada ahli waris dzawil furudz, namun jika ada ahli waris dzawil furudz maka ia hanya memperoleh ashabah (sisa) setelah dibagikan kepada ahli waris dzwil furudz tersebut (ashabah bin nafsih).

b.       Apabila anak laki-laki dua orang atau lebih, dan tidak ada anak perempauan, serta ahli waris dzwil furudz yang lain, maka ia membagi rata harta warisan itu, namun jika ada anak perempuan, maka dibagi dua banding satu (ashabah bil ghair), berdasarkan surat Anisa’ ayat 11 dan 12 tersebut.

Ibu dalam menerima pusaka/bagian  harta waris adalah sebagai berikut:

1.     Ibu mendapat seperenam, apabila pewaris meninggalkan anak.

2.      Ibu mendapat sepertiga bagian, apabila pewaris tidak mempunyai anak.

Dan diantara ahli waris yang ada, apabila ada ibu maka yang dihijab ibu adalah nenek dari pihak ibu, yaitu ibu dari ibu dan seterusnya keatas. Nenek dari pihak bapak yaitu ibu dari bapak dan seterusnya keatas. Hal ini berdasarkan surat An Nisa’ ayat 11 yang artinya:”Dan untuk dua orang ibu bapak, baginya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika pewaris itu  mempunyai anak”.

Bagian Bapak adalah:

a.       Apabila sipewaris mempunyai anak laki-laki atau cucu dari anak laki-laki, maka bapak mendapat 1/6 dari harta peninggalan dan sisanya jatuh kepada anak laki-laki.

b.      Apabila pewaris hanya meninggalkan bapak saja, maka bapak mengambil semua harta peninggalan dengan jalan ashabah.

c.       Apabila pewaris meninggalkan ibu dan bapak, maka ibu mendapat 1/3 dan bapak mengambil 2/3 bagian.

Sedangkan bagian nenek adalah:

a.       Apabila seorang pewaris meninggalkan seorang nenek saja, dan tidak meninggalkan ibu, maka nenek mendapat bagian 1/6.

b.      Apabila seorang pewaris meninggalkan nenek lebih dari seorang dan tidak meninggalkan ibu, maka nenek mendapat 1/6 dibagi rata diantara nenek tersebut.

Menurut hukum waris Islam, oarng yang tidak berhak mewaris adalah:

a.       Pembunuh pewaris, berdasrkan hadtis yang diriwayatkan oleh At tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasa’i.

b.      Orang murtad, yaitu keluar dari agama Islam, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bardah.

c.       Orang yang berbeda agama dengan pewaris, yaitu orang yang tidak menganut agama Islam atau kafir.

d.  Anak zina, yaitu anak yang lahir karena hubungan diluar nikah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi (Hazairin, 1964: 57).

Perlu diketahui bahwa jika pewaris meninggalkan ibu, maka semua nenek terhalang, baik nenek dari pihak ibu sendiri maupun nenek dari pihak ayah (mahjub hirman). Dan jika semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan adalah  hanya anak (baik laki-laki  maupun perempuan),  ayah, ibu, dan janda atau duda sedangkan ahli waris yang lain terhalang (mahjub) (Pasal 174  Ayat (2) KHI).

 

  1. B.     Sistem Hukum kewarisan menurut KUH Perdata (BW).

Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata ada dua cara untuk mendapatkan warisan, yaitu:

1.      Sebagai ahli waris menurut Undang-undang.

2.      Karena ditunjuk dalam surat wasiat (testament).

Cara yang pertama dinamakan mewarisi menurut Undang-undang atau “ab intestato” dan cara yang kedua dinamakan mewarisi secara “testamentair”.

Dalam hukum waris berlaku suatu asas, bahwa hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan. Dengan kata lain hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dinilai dengan uang saja (Subekti, 1993: 95).

Bila orang yang meninggal dunia tidak membuat testamen, maka dalam Undang-undang Hukum Perdata ditetapkan pembagian warisan sebagai berikut:

a.  Yang pertama berhak mendapat warisan yaitu suami atau isteri dan anak-anak, masing – masing berhak mendapat bagian yang sama jumlahnya (pasal 852 BW).

b.      Apabila tidak ada orang sebagaimana tersebut di dtas, maka yang kemudian berhak mendapat warisan adalah orang tua dan saudara dari orang tua yang meninggal dunia, dengan ketentuan bahwa orang tua masing-masing sekurang-kurangnya mendapat seperempat dari warisan (pasal 854 BW).

c.       Apabila tidak ada orang sebagaimana tersebut di atas, maka warisan dibagi dua, separuh untuk keluarga pihak ibu dan separuh lagi untuk pihak keluarga ayah dari yang meninggal dunia, keluarga yang paling dekat berhak mendapat warisan. Jika anak-anak atau saudara-saudara dari pewaris meninggal dunia sebelum pewaris, maka tempat mereka diganti oleh keturunan yang sah (pasal 853 BW).

Di dalam KUH Perdata (BW) dikenal pula harta peninggalan yang tidak terurus yaitu jika seorang meninggal dunia lalu mempunyai harta, tetapi tidak ada ahli warisnya, maka harta warisan itu dianggap sebagai tidak terurus. Dalam hal yang demikian itu maka Balai Harta peninggalan (Wesskamer) dengan tidak usah menuggu perintah dari Pengadilan wajib mengurus harta itu namun harus memberitahukan kepada pihak Pengadilan. Dalam hal ada perselisihan apakah suatu harta warisan dapat dianggap sebagai tidak terurus atau tidak. Hal ini akan diputuskan oleh Pengadilan, Weeskamer itu diwajibkan membuat catatan tentang keadaan harta tersebut dan jika dianggap perlu didahului dengan penyegelan barang-barang, dan selanjutnya membereskan segala sangkutan sipewaris berupa hutang-hutang dan lain-lain. Wesskamer harus membuat pertanggungjawaban, dan juga diwajibkan memanggil para ahli waris yang mungkin ada dengan panggilan-panggilan umum, seperti melalui RRI, surat-surat kabar dan lain-lain cara yang dianggapa tepat. Jika setelah lewat tiga tahun belum juga ada seorang ahli waris yang tampil atau melaporkan diri, maka weeskamer akan melakukan pertanggungjawaban tentang pengurusan harta peninggalan itu kepada negara, dan selanjutnya harta tersebut akan menjadi milik negara.

Menurut ketentuan pasal 838 KUH Perdata, yang dianggap tidak patut menjadi ahli waris dan karenanya tidak berhak mewaris ialah:

a.      Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh pewaris.

b.      Mereka yang dengan putusan hakim Pengadilan dipersalahkan karena dengan fitnah telah mengajukan pengaduan terhadap pewaris mengenai suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau hukuman yang lebih berat.

c.       Mereka yang dengan kekerasan telah mencegah pewaris membuat atau mencabut surat wasiatnya.

d.      Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat pewaris.

 

  1. C.     Persamaan dan perbedaan antara sistem hukum Islam dengan sistem KUH Perdata (BW).

Sistem hukum kewarisan menurut KUH Perdata tidak membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, antara suami dan isteri, mereka berhak semua mewaris, dan bagian anak laki-laki sama dengan bagian anak perempuan, bagian seorang isteri atau suami sama dengan bagian anak.

Apabila dihubungkan dengan sistem keturunan, maka KUH Perdata menganut system keturunan Bilateral, dimana setiap orang itu menghubungkan dirinya dengan keturunan ayah mapun ibunya, artinya ahli waris berhak mewaris dari ayah jika ayah meninggal  dan berhak mewaris dari ibu jika ibu meninggal, berarti ini ada persamaan dengan hukum Islam.

Persamaanya apabila dihubungkan antara sitem hukum waris menurut Islam dengan sistem kewarisan menurut KUH Perdata, baik menurut KUH Perdata maupun menurut hukum kewarisan Islam sama-sama menganut  system kewarisan individual, artinya sejak terbukanya waris (meninggalnya pewaris) harta warisan dapat dibagi-bagi pemilikannya antara ahli waris. Tiap ahli waris berhak menuntut bagian warisan yang menjadi haknya. Jadi sistem kewarisan yang dianut oleh KUH Perdata adalah sistem kewarisan individul bilateral (Subekti, 1953: 69), sedangkan perbedaannya adalah terletak pada saat pewaris meninggal dunia,  maka harta tersebut harus dikurangi dulu pengluaran-pengluaran antara lain apakah harta tersebut sudah dikeluarkan zakatnya, kemudian dikurangi untuk membayar hutang atau merawat jenazahnya dulu, setelah bersih, baru dibagi kepada ahli waris, sedangkan menurut KUH Perdata tidak mengenal hal tersebut, perbedaan selanjutnya adalah terletak pada besar dan kecilnya bagian yang diterima para ahli waris masing-masing, yang  menurut ketentuan KUH Perdata semua bagian ahli waris adalah sama, tidak membedakan apakah anak, atau saudara, atau ibu dan lain-lain, semua sama rata, sedangkan menurut hukum Islam dibedakan bagian antara ahli waris yang satu dengan yang ahli waris yang lain.

Persamaan  tersebut disebabkan karena pola dan kebutuhan masyarakat yang universal itu adalah sama, sedangkan perbedaan-perbedaan itu disebabkan karena cara berfikir orang-orang barat adalah abstrak, analistis dan sistematis, dan pandangan hidup mereka adalah individulaistis dan materialistis, sedangkan  hukum Islam dilatar belakangi oleh cara berfikir yang logis, riil dan konkrit, dan pandangan hidup dalam hukum Islam didasarkan pada sistem kekeluargaan dan bersifat rohani (magis).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

38 Tanggapan

  1. Artikelnya BAgus .. Saya Ijin memakai ilmunya ..

    • Silakan di share…. Bagi Cerita pengalaman nya ya… :D

      • pak, saya mau menanyakan bagaimana pembagian harta sejumlah 150 jt, sedangkan orangtua saya sudah meninggal kami anak kandung satu ibu satu ayah ada 4 org dan kakak satu ibu lain ayah (kakak tiri) ada 2 orang. trima kasih

  2. bagaimana apa bila ada alih waris yg telah keluar dari agama islam apa masih mempunyai hak waris

  3. bagaimana jika si ahli waris meninggal sebelum Pewaris? apakah anak dari ahli waris ( cucu pewaris ) masih mendapatkan hak waris?

  4. u/saudara haryoyok,jawabannya ada di uraian diatas :

    Menurut hukum waris Islam, oarng yang tidak berhak mewaris adalah:

    b. Orang murtad, yaitu keluar dari agama Islam, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bardah.

    c. Orang yang berbeda agama dengan pewaris, yaitu orang yang tidak menganut agama Islam atau kafir.

  5. ijin copas ya pak

  6. bgmn dgn keluarga dimana orang tua brcerai dan meninggalkan anak 1 orang, serta harta benda yg dimiliki, kemudian berumahtangga dan mendapat anak 1 laki-laki, dan 1 perempuan. bagaimana sistem pembagian harta waris terhadap 1 istri, 1 anak tiri dan sepasang anak kandung secara hukup islam dan perundang-undangan di negara RI. tks

  7. cara membagi warisan itu bagai mana mijnd?

  8. Makasih penjelasan hukum warisnya….

  9. saya adalah anak perempuan pertama dan memiliki ibu tiri dan 3 adik laki2 dari ibu tiri saya,,ayah saya sudah meninggal, tapi semua harta dipegang oleh ibu tiri saya,,haruskah saya menuntut hak saya???mohon dijawab.wassalam

  10. Siapa yg berdosa apabila membagi harta warisan tidak sesuai dg hukum islam (misal anak laki dan perempuan mendapat harta yg sama), walaupun tidak ada yg mempermasalahkan.
    Trmksh

  11. ma’af agan2… kalau boleh aku nanyak : seumpamanya si ahli waris ada 6 orang dan anak yang pertama dan terakhir perempuan, dan anak yang pertama itu punya 7 orang anak/ cucu dari si pewaris, apakah dia berhak menentukan mengatur warisan yang ditinggalkan si pewaris/kakek???? mohon jawabanya, ma’af saya gak paham hukum.

  12. mohon bantuannya. saat ini keluarga sedang dalam proses bagi waris. kondisi sekarang adalah: ayah meninggal tahun 2008, meninggalkan 1 orang anak laki-laki dari istri pertama yg meninggal karena kecelakaan thn 1972. menikah lagi tahun 1980 mempunyai 5 orang anak (3 laki-laki dan 2 perempuan) jadi total anak ada 6 (enam).
    bagaimana hitungan pembagiannya? mengingat kondisi hubungan yang kurang baik si anak pertama dengan ibu sambung.
    terima kasih.

  13. mau nanya permasahanya ibu saya meninggal ayah saya menikah lagi mempunyai 3 orang anak meninggalkan harta dari bersama ibu saya bagaimana pembagianya

  14. bagaimana hukumnya jika harta warisan dikuasai oleh seseorang 1 atau 2 orang dari kakak kita, sedangkan warisan tersebut sudah dinikmati oleh kakak yang lain selama lebih dari 10 tahun ?

  15. assalammualaikum,yang terhormat ikhwan/ukhti , kedua orang tua saya meninggal dan belum sempat memberikan amanat akan warisan yang mana besarnya warisan yang ada saat ini sebesar 250 juta rupiah, kami 3 saudara laki-laki dan 2 saudara perempuan,mohon kiranya mau membantu akan tata cara pembagian warisan tersebut agar insya ALLOH harta warisan itu kelak menjadi barokah bagi kami dan kedua orang tua kami, AMIN…sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih.wasalamualaikum warohmatulloh hiwabarokatuh (genta_dadys@yahoo.com)

    • @sudarsana
      Laki-laki = 3 x 2 bagian = 6 bagian
      Perempuan = 2 x 1 bagian = 2 bagian
      jadi total ada 8 bagian
      @laki-laki = 6/8 : 3 = 2/8
      @perempuan = 2/8 :2 = 1/8
      @Laki-laki = 2/8 x 250 jt
      @Perempuan = 1/8 x 250 jt
      CMIIW
      tks

  16. Ingin bertanya dan konsul. Apabila seseorang tidak punya anak kandung, tp punya anak angkat n cucu angkat, suami sdh meninggal , orangtua sdh tdk ada dan sodara2 kandung juga sdh tidak ada siapa yg menjadi ahlu warisnya?
    Sebelum wafat beliau membuat srt wasiat di notaris dgn menunjuk ahli waris anak dan cucu angkatnya. Tetapi penggunaan peninggalanya diatur dan ditunjuk seorang pelaksana wasiat. Apa yg hrs dilakukan pelaksana wasiat? Agar ybs tidak salah dlm memenyerahkan peninggalan tsbt kpd yg berhak?

  17. Assalammualaikum, saya mohon petunjuknya.
    Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia. Saya ingin menanyakan perhitungan warisan apabila orang tua saya memiliki satu anak laki2 dan dua anak perempuan.
    Sebelumnya Trima kasih.

  18. Assalamualaikum Wr. Wb,

    artikelnya bagus sekali tetapi saya masih bingung dengan perhitungannya.

    Ayah saya pernah menikah s.d 5 (lima) kali, dan setiap istri meninggalkan anak, tetapi bukan berarti ayah saya memiliki istri s.d 5 (lima) org melainkan dari proses nikah/cerai.

    1. Istri ayah saya yang pertama telah meninggal dunia dan memiliki 5 org anak (4 perempuan dan 1 laki-laki), tetapi pada peristiwa kematian istri pertama, ayah saya tidak membagikan harta waris kepada anak yang 5 itu.
    2. Istri ayah saya yang kedua masih hidup dan memiliki 2 org anak perempuan, tetapi sudah berstatus cerai hidup.
    3. Istri ayah saya yang ketiga masih hidup dan memiliki 3 org anak (2 laki-laki dan 1 perempuan), status-nya pun sudah cerai hidup.
    4. Istri ayah saya yang ke-empat masih hidup dan memiliki 2 org anak (1 laki-laki dan 1 perempuan), status-nya sama juga sudah bercerai hidup.
    5. Istri ayah saya yang ke-lima masih hidup, dan tinggal mati oleh ayah saya, selain itu dari istri ini di tinggalkan 1 org anak perempuan.

    Total keseluruhan anak-anak ayah saya adalah 13 org yang terdiri dari 4 org anak laki-laki dan 9 org anak perempuan.

    Dlm perjalanan pergantian istri tersebut, ayah saya pernah memberikan harta kepada para istri yang telah dicerai dan juga anak-anak-nya. Apakah hal tersebut terhitung sebagai pemberian waris dari ayah saya yang kini telah meninggal dunia ? Kemudian bagaimana cara pembagiannya agar adil dan bijaksana sesuai aturan Islam.

    Terima Kasih

  19. Mohon diberikan penjelasan apabila ahli waris adalah 1 anal perempuan dan 2 anak laki bagaimana pembagiannya?

    kemudian keadaan yang terjadi sekarang.

    a. anak pertama adalah anak perempuan sudah meninggal memiliki 2 anak laki laki,

    b. anak kedua adalah anak laki sudah meninggal yang sebelumnya telah menikah dengan janda memiliki 2 anak (1 anak laki dan 1 anak perempuan). tidak memiliki anak kandung

    c. anak ketiga adalah anak laki masih hidup dan memiliki istri dan 3 anak

    mohon jawaban

    terima kasih

  20. Ass, saya ingin bertanya bagaimana kah pembagian waris dimana pewaris meninggalkan ibu, 1 org istri, 1org anak perempuan (adopsi), dan 4 org saudara kandung, sementara harta warisan ini baru diperbincangkan setelah ibu meninggal, wss terimakasih

  21. Assalamualaikum Wr. Wb,

    saya mao tanya klo kedua orang tua,y meninggal memiliki rumah dan sudah terjual 130jt, dan mempunya 3orang anak laki2 dan 1prempuan, ke 3 anak trsbt sudah br keluarga kaka laki2 perta dan ke dua laki2 dan ke tiga prempuan. dan si bungsu laki2 blm brkeluarga.
    kaka laki2 pertama memiliki 3 anak 2 prempuan dan 1 laki2
    kaka laki2 kedua memiliki 1 anak laki2
    kaka ketiga prempuan memiliki 2 anak laki2
    dan si bungsu blm berkeluara,

    mohon jawabanya karana tidak begitu paham tentang pembagian warisan secara islam.

    ramadan.fadil@yahoo.com

  22. Artikel yang bagus. Sungguh membantu masyarakat yang membutuhkan informasi terkait hukum waris dalam Islam.

  23. aslmkum….mhn penjelasan nya…krn ini sudh membuat keluarga kmi pecah belah….begini:ayah dan ibu saya menikah dan di kurniai anak 4 org ,2 laki-laki 2 perempuan,dan mempunyai rumah standard di thn 1980an, dan jga sebidang lahan perkebunan..di thn 1983an ayah saya meningal…ibu saya menjdi janda,dalam masa ibu saya janda,ibu saya buka usaha,dri hasil usaha trsbut ibu mampu membeli lahan bru plus membuat rumah standard di lahan bru nya..di thn 1986an ibu saya menikah lg sampai skrg dan di karuania anak 1 laki-laki,1 perempuan..di masa ibu dan ayah tiri saya berumah tanga,rumah dan lahan perkebunan ayah saya di jual..dan lahan pembelian sewkt ibu janda sebgian di jual..dan sisa lahan serta rumah pembelian serta pembuatan semasa ibu janda di tunjuk oleh ibu dan ayah tiri saya menjdi pemilik adalah salah satu adek tiri saya..kmi tdk dpt apa apa malah di usir dari rumah pembuatan swk ibu janda…pertnyaan saya adakh hak kmi di lahan dan rumah pembelian dan pembuatan di masa ibu janda….? kl ada berapa persen?

  24. Bapak saya meninggal, ibu masih ada anak laki laki 4 (empat) orang dan anak perempuan 3 (tiga) orang, apakah sudah bisa dibagikan ? kalau bisa bagaimana pembagiannya ?

  25. ibu saya meninggal 3 thn yg lalu dan ayah saya menikah lagi dan mempunyai seorang anak perempuan umur 10 bln sedangkan saya cuman 2 bersaudara semuanya perempuan, dan masing-masing sudah menikah. bagaimana cara pembagiannya?

  26. ass.wr.wb. mohon penjelasannya, kakek dan nenek saya sudah meninggal, dan dahulu sebelum kake saya meninggal sempat membuat waasiat untuk membagi sama rata harta warisan ke 9 anaknya dan istrinya, kemuadian nenek saya meninggal sebelum ada pembagian harta tersebut, dan kini yang menjadi permasalahan bagaimana cara pembagian harta kakek nenek saya tersebut, apakah tetap sesuai dengan wasiat dari kakek saya atau menggunakan hukum perdata dan/atau hukum islam? terima kasih

  27. Assalamualaikum wr wb, mohon penjelasan ; saya mempunyai kakak yang telah meninggal dunia sebelum orang tua kami meninggal, apakah kakak saya tadi masih berhak menjadi ahli waris atau mendapat warisan ?

  28. izin share boleh yaa…? :)

  29. Assalamualaikum wr wb, mohon penjelasan ; saya mempunyai 6 saudara 2 laki2 dan 4 perempuan.kakak yang pertama laki2 dan adik yg ke 6 laki2 juga,orang tua kami telah meninggal dunia.yg jdi masalah sekarang orang tua kami meninggalkan warisan sebuah rumah,yg mana rumah tersebut milik nenek saya .nenek tersebut orang tua dari ibu saya,yg jadi masalah sekarang kakak laki2 tertua ingin menjual rumah tersebut,bagimana cara pembagiannya?
    Balas

  30. selamat Siang..
    saya mempunyai pertanyaan, Mohon bantuannya teman-teman semua

    saya ingin menanyakan bagaimana kedudukan Istri atau suami yang telah “Dicerai” sebelum pemberi waris meninggal dunia, apakah berhak juga mendapatkan “harta warisan” tersebut?
    jika berhak berapakah persen yang didapat oleh mereka

    terimakasih

  31. Assalamualaikum wr wb mohon penjelasannya,orang tua kami telah meninggal dunia,tinggal kami berdua,kami diwarisi rumah..kami 2 bersaudara,kakak petama perempuan dan saya sendiri laki2 apabila rumah kami jual,berapa yg harus dibagi…untuk perempuan brp persen,utk laki2 brp persen,mohon bantuannya

  32. Trimaksih. ..infonya

  33. seorang suami meninggalkan istri dan seorang anak prp, suami punya 1saudara laki2…bagaimana pembagian warisan menurut islam ??

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: